Alam Semesta Teramati Ternyata Lebih Kecil dari Perkiraan Awal

Diposting oleh Samsudin pada 16:21, 22-Agu-16  •  Komentar (6)

observable%2Buniverse.jpg

Alam semesta teramati. Kredit: Pablo Carlos Buddasi

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, para ilmuwan telah memperbarui pengukuran radius alam semesta teramati (observable universe). Dan ternyata, alam semesta teramati tidak sebesar yang kita kira sebelumnya.

Dalam pengukuran terbaru ini, diketahui bagian dari alam semesta yang secara teknis terlihat dari Bumi sekarang menyusut sekitar 320 juta tahun cahayake segala arah.

Merekalah fisikawan Paul Halpern dan Nick Tomasello dari University of Sciencesdi Philadelphia, AS, yang telah menggunakan data perluasan alam semesta terbaru yang dikumpulkan olehwahana antariksa Planck milik Agensi Antariksa Eropa (ESA), dan menemukanbahwa tepi dari alam semesta teramati sebenarnya 0,7 persen lebih kecil daripada perkiraan awal.

Mereka mengatakan bahwa dengan menggunakan pengukuran yang lebih akurat ini, mereka telah berhasil mendapatkan radius alam semesta teramati dari yang awalnya 45.660.000.000 tahun cahaya, saat ini hanya 45.340.000.000 tahun cahaya (1 tahun cahaya adalah sekitar 9,5 triliun km).

"Perbedaan 320 juta tahun cahaya mungkin tidak terlalu berarti pada skala kosmik, tapi tetap saja ini membuat alam semesta teramati yang kita ketahui ternyata lebih kecil," ujar Tomasello.

Alam semesta teramati merupakan sebuah konsep di mana sejumlah galaksi dan materi-materi lain, secara teori, dapat diamati dari Bumi pada saat ini. Cahaya-cahaya dari benda-benda di alam semesta teramati ini telah punya cukup waktu untuk mencapai penglihatan kita sejak kelahiran alam semesta sekitar 13,7 miliar tahun lalu.

Diasumsikan alam semesta adalah isotropik, jarak ke ujung-ujung alam semesta teramati kira-kira sama ke segala arah. Maka, alam semesta teramati adalah sebuah volume bola yang pusatnya di pengamat. Setiap lokasi di alam semesta memiliki alam semesta teramatinya masing-masing, yang mungkin atau mungkin juga tidak tumpang tindih dengan yang berpusat di Bumi.

Kata teramati di sini tidak ada hubungannya dengan kemampuan teknologi modern untuk mendeteksi radiasi dari objek di dalam daerah ini, melainkan dengan kemungkinan cahaya atau radiasi lain dari objek mencapai pengamat. Pada praktiknya, kita hanya dapat melihat cahaya sejauh ketika foton terbelah ketika masa rekombinasi.

Hal ini terjadi ketika partikel pertama kali dapat melepas foton yang kemudian tidak cepat terserap kembali oleh partikel lainnya. Sebelum itu, alam semesta terisi oleh plasma yang tidak tembus cahaya ke foton. Gelombang gravitasi yang terdeteksi menandakan bahwa saat ini ada kemungkinan untuk mendeteksi sinyal non-cahaya dari sebelum masa rekombinasi.

Estimasi terbaik usia alam semesta pada 2015 adalah 13,799±0,021 milyar tahun, namun karena adanya ekspansi alam semesta maka manusia mengamati objek yang awalnya sangat dekat namun saat ini menjadi sangat jauh, lebih dari jarak tetap 13,8 milyar tahun cahaya.

Diperkirakan diameter alam semesta teramati adalah sekitar 28,5 gigaparsecs (93 miliar tahun cahaya), menjadikan ujung alam semesta teramati berjarak sekitar 45,34 miliar tahun cahaya (menurut perhitungan terbaru ini).

Sumber : www.infoaatronomy.org

Ketika Lubang Hitam Ternyata Tidak Benar-benar Hitam

Diposting oleh Samsudin pada 16:03, 21-Agu-16  •  Komentar (8)

ThumbnailGargantua, ilustrasi lubang hitam paling mendekati kenyataan. Kredit: Warner Bross Lubang hitam memiliki kecepatan lepas yang lebih besar dari kecepatan cahaya. Selama tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya, maka tidak ada yang dapat melarikan diri dari lubang hitam. Iniadalah penjelasan mekanika sederhana dari lubang hitam. Tapi jika Anda menambahkan termodinamika dan mekanika kuantum, semua hal menjadi begitu rancu. Fisikawan... [Baca selengkapnya]

Halo Semua!

Diposting oleh Samsudin pada 08:43, 24-Jun-16  •  Komentar (1)

Selamat datang di MyWapBlog.com. Ini posting pertama kamu. Editlah atau hapuslah, dan mulailah ngeblog!